Sumbawa Barat – Pada Selasa, 28 April 2026 pukul 09.30 WITA, bertempat di ruang Vicon Kodim 1628/Sumbawa Barat, telah dilaksanakan kegiatan diskusi pembahasan peran kecabangan dan fungsi TNI AD dalam operasi gerilya melalui video conference (Vicon). Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Komandan Kodiklat TNI AD Letjen TNI Muhamad Hasan dan diikuti oleh jajaran satuan, termasuk Kasdim 1628/Sumbawa Barat Mayor Cba Agus, S.H., serta Pasi Ops Kapten Inf Saiful Anwar.
Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari evaluasi latihan antar kecabangan (YTP Komposit 2025 di Natuna), dengan fokus pada penguatan konsep operasi gerilya yang adaptif terhadap dinamika ancaman modern. Dalam sambutannya, Komandan Kodiklat TNI AD menegaskan bahwa perkembangan lingkungan strategis saat ini menunjukkan kompleksitas ancaman yang tidak hanya bersifat militer, tetapi juga mencakup aspek non-militer dan hibrida.
Lebih lanjut disampaikan bahwa kemajuan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), siber, drone, serta perang kognitif telah memengaruhi karakter peperangan modern. Oleh karena itu, TNI AD dituntut untuk menjadi kekuatan yang modern, adaptif, serta mampu beroperasi secara terpadu dan interoperabel lintas matra.
Dalam paparan akademis, Wakil Rektor Universitas Pertahanan menjelaskan bahwa ancaman saat ini telah berkembang menjadi Multi-Domain Warfare yang mencakup berbagai dimensi, baik darat, laut, udara, siber, maupun informasi dan kognitif. Untuk itu, sistem pertahanan negara harus mengedepankan konsep Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata) yang bersifat total, terpadu, dan berbasis rakyat.
Konsep perang berlarut juga menjadi perhatian utama, dengan menitikberatkan pada pemanfaatan waktu, ruang, dan rakyat sebagai kekuatan strategis. Dalam konteks ini, operasi gerilya modern tidak lagi bersifat konvensional, melainkan mengedepankan mobilitas tinggi, pemanfaatan teknologi, serta operasi informasi dan psikologis.
Sementara itu, paparan Komandan Kodiklat TNI AD menegaskan bahwa Operasi Perlawanan Wilayah (Opswanwil) merupakan bagian penting dalam Operasi Militer Perang (OMP) yang dilaksanakan melalui strategi perang gerilya. Strategi ini dipilih sebagai langkah cerdas untuk menghadapi ketidakseimbangan kekuatan serta menghindari kehancuran total dalam pertempuran terbuka.
Dari sisi kebijakan pertahanan, Kementerian Pertahanan menyampaikan bahwa sistem pertahanan negara terdiri dari Komponen Utama (TNI), Komponen Cadangan (Komcad), dan Komponen Pendukung (Komduk) yang harus dikelola secara terpadu. Peran Komcad sebagai pengganda kekuatan dan Komduk sebagai penopang logistik menjadi faktor penting dalam keberhasilan operasi gerilya.
Dalam sesi diskusi, disimpulkan bahwa keberhasilan perang gerilya sangat ditentukan oleh sinergi seluruh komponen bangsa, dukungan teknologi modern, serta penguatan fungsi kewilayahan. Transformasi satuan infanteri menjadi unit kecil yang lincah, mandiri, dan adaptif juga menjadi salah satu kunci utama dalam menghadapi tantangan peperangan masa depan.
Selain itu, diperlukan sistem intelijen yang akurat dan berbasis wilayah guna mendukung pengambilan keputusan yang tepat. Seluruh hasil diskusi diharapkan dapat menjadi dasar dalam penyusunan doktrin yang lebih komprehensif, aplikatif, dan relevan dengan perkembangan zaman.
Kegiatan yang berlangsung hingga pukul 13.00 WITA ini berjalan dengan lancar dan aman. Diharapkan hasil diskusi dapat segera ditindaklanjuti guna memperkuat profesionalisme serta modernisasi TNI AD dalam menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
(Pendim 1628/KSB)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar